Minggu, 08 Februari 2009
Profil Saya
Tempat dan Tanggal Lahir : Samir, 6 Januari 1970
Alamat : Banjarmasin
Pekerjaan : PNS (Guru)
Hobi : Resert (Penelitian)
Status : Kawin (Istri, 2 Anak)
Keinginan Lebih Lanjut : Rencana Tahun ini mengambil S2 Prog. PSDAL
(Pemanfaatan Sumber Daya Alam dan Lingkungan)
Kamis, 05 Februari 2009
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Tumbuhan yang ada dimuka bumi selain terdapat dalam jumlah yang sangat besar juga menunjukkan keanekaragaman yang sangat besar pula. Jumlah dan keaneka-ragaman yang sangat besar itu mendorong manusia yang mempelajari tumbuhan untuk melakukan penyederhanaan obyek studi berupa tumbuhan yang beranekaragam itu melalui klasifikasi (pengelompokan dan pemberian nama yang tepat setiap kelompok yang terbentuk. (Tjitosoepomo, 1985 : 224).
Jumlah jenis tumbuhan yang dikenal seseorang lazimnya cukup banyak, walaupun pengenalannya hanya didasarkan kesan visual dan terbatas pada ingatan saja. Untuk jenis tumbuhan yang tumbuh di lingkungan dekatnya saja mungkin belum dikenal semuanya. Ahli-ahli taksonomi pun belum mampu mengenali semua jenis tumbuhan di muka bumi kita ini. Di kepulauan nusantara kita ini kekayaan tentang jenis-jenis tumbuhan ditaksirkan meliputi 10% kekayaan dunia, yaitu antara 30 – 40 ribu jenis tumbuhan yang belum dikenal semuanya (Tjitosoepomo, 1985 : 258).
Tumbuhan obat di Indonesia sangat banyak jenisnya. Bahan obat-obatan tradisional itu dapat diperoleh dari tumbuhan yang berbentuk pohon, semak, liana, rumput-rumputan sampai pada bentuk umbian. Potensinya belum dapat diketahui secara pasti, namun menurut perkiraan, di kawasan Asia Tenggara ini terdapat tidak kurang dari 6500 jenis tumbuhan, diantaranya lebih dari 1000 jenis bermanfaat sebagai obat, sebagian besar tumbuhan itu terdapat di dalam hutan. Tumbuhan obat tersebut bernilai tinggi, bahkan berdampak positif untuk perkembangan sosial ekonomi wilayah yang tinggi pula. Pemanfaatan tumbuhan obat bukan merupakan hal yang baru bagi masyarakat Indonesia. Kenyataan ini menunjukkan bahwa masyarakat telah dapat mengatasi masalah kesehatan dengan bantuan obat-obatan tradisional yang bersumber dari tumbuh-tumbuhan.
Jamu tradisional adalah jamu yang terbuat dari tumbuh-tumbuhan yang diambil dari alam secara langsung. Dahulu cara mengkonsumsi jamu tradisional hanya dengan ditumbuk kemudian diperah dan siap dikonsumsi. Akan tetapi, sesuai dengan kemajuan teknologi para ahli telah membuat sebuah cara untuk menyajikan jamu tradisional secara instant. Sekarang ada beberapa cara untuk mengkonsumsi jamu tradisional baik dengan bentuk yang serbuk ataupun dengan cara tradisional. Jamu tradisional dengan bentuk serbuk biasanya dihasilkan oleh industri jamu. Industri jamu atau obat tradisional yang berbentuk serbuk yang dihasilkan pabrik, banyak memakai bahan (simplesia) dalam keadaan kering. Bahan yang akan dibeli diperiksa dulu di laboratorium. Pembuatan bahan kering tersebut dilakukan dengan mencuci tanaman obat hingga bersih dan dipilih (sortir), kemudian dijemur sampai kering dan selanjutnya disimpan di gudang. Kemudian sebelum digiling bahan jamu digoreng lebih dahulu (digoreng tanpa minyak). Setelah itu dibawa kebagian penggilingan dan digiling hingga halus dengan ukuran 20 sampai 30 kg. Sebelum dibawa kebagian pembungkus sekali lagi contohnya diambil dan diperiksa di laboratorium. Selanjutnya dibawa ke bagian pembungkus untuk dikemas dengan berbagai macam bentuk kemasan. Ada yang tetap menjadi jamu serbuk, dibuat dalam bentuk param dan ada juga berbentuk kapsul. Setelah itu siap untuk dipasarkan (Nugroho, 1983:19-22).
Akan tetapi, masih ada sebagian masyarakat yang menganggap bahwa mengkonsumsi jamu dengan buatan tradisional akan lebih berkhasiat. Oleh sebab itu, masih banyak ditemukan pedagang-pedagang jamu keliling dengan olahan tradisional. Konsumen pedagang jamu keliling sangat bervariasi dari mulai anak-anak sampai orang dewasa. Jamu yang disajikan pun bermacam-macam pula dari beras kencur sampai paitan dengan khasiat yang berbeda.
Khasiat dari tumbuhan obat ini perlu dikembangkan karena selain untuk melestarikan budaya dan tumbuh-tumbuhan perlu juga pengenalan lebih mendalam kepada siswa mengenai jenis tumbuhan obat berikut nama latinnya. Selain itu, mempermudah siswa untuk mengidentifikasi jenis dari tumbuhan yang berkhasiat untuk obat tradisional.
Dengan melihat kenyataan di atas, dirasa perlu sekali penulis melaksanakan penelitian tentang peningkatan daya ingat siswa terhadap istilah latin (ilmiah) tumbuhan pada mata pelajaran biologi siswa kelas III SMA Negeri 1 Wanaraya melalui pengenalan tanaman obat tradisional.
1.2 Perumusan Masalah
Masalah ingin dipecahkan dalam penelitian ini adalah :
1) Tumbuhan apa sajakah yang digunakan untuk pembuatan ramuan jamu (obat) tradisional?
2) Sejauh mana kemampuan siswa dalam mengingat jenis tumbuhan obat beserta nama latinnya?
1.3 Batasan Masalah
Yang menjadi ruang lingkup atau batasan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.
1) Menginventarisasi jenis-jenis tumbuhan yang digunakan sebagai obat tradisional dengan istilah-istilah bahasa Indonesia, Daerah dan Latin (ilmiah).
2) Jamu tradisional yang sifatnya buatan pabrik yang dalam bentuk serbuk tidak dilakukan penginventarisasian.
1.4 Tujuan dan Manfaat Penelitian
1) Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan daya ingat siswa terhadap istilah latin (ilmiah) tumbuhan pada mata pelajaran biologi siswa kelas III SMA Negeri 1 Wanaraya melalui pengenalan tanaman obat tradisional.
2) Manfaat Penelitian
Dari hasil penelitian nanti diharapkan:
a. Siswa akan lebih aktif dan kreatif serta berdaya guna bila penelitian dapat dibaca dan dipahami siswa. Siswa akan memanfaatkan pengetahuan mengenai jenis-jenis tanaman yang berkhasiat obat dengan mengingat nama latin pada masing-masing tanaman. Mereka akan menjadikan penelitian ini sebagai masukan terhadap prestasinya khususnya dalam hal menginat nama latin pada jenis tumbuhan.
b. Hasil penelitian ini dapat memberikan masukan yang lebih baik bagi sekolah terhadap perbaikan komponen pengajaran khususnya pengajaran Biologi. Diharapkan pula sekolah dapat menyediakan alat dan bahan untuk melakukan praktikum karena pengajaran biologi di sekolah akan lebih berkesan jika lebih banyak dilakukan dengan praktikum.
c. Bagi pengajar khususnya pengajar mata pelajaran biologi diharapkan peka terhadap perkembangan minat belajar siswa dan lebih agresif dalam menyikapi perkembangan tersebut.
d. Bagi peneliti selanjutnya, diharapkan penelitian ini dapat menjadi tolak ukur bagi peneliti berikutnya dengan waktu dan kesempatan yang berbeda
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Tumbuhan Obat-obatan dan Jamu
Tumbuhan obat adalah semua jenis tumbuhan yang berkhasiat obat dan belum dibudidayakan, dengan kata lain tumbuhan obat adalah tumbuhan yang penggunaannya untuk keperluan obat-obatan. Pengertian obat-obatan di sini adalah obat tradisional yang daya penyembuhannya belum dapat dibuktikan secara medis. Akan tetapi, sekarang ini tanaman obat yang memang telah mememiliki khasiat dengan melalui pengujian memang telah ada yang dibudidayakan. Ada sedikit sejarah singkat mengapa manusia menggunakan tumbuhan sebagai bahan pengobatan. Dahulu masyarakat primitif percaya bahwa penyakit disebabkan adanya makhluk jahat dalam tubuh yang hanya dapat diusir dengan menggunakan bahan-bahan yang tidak menyenangkan.
Pada tanaman “rambut perawan” di mana tumbuhan ini memiliki tangkai anak daun mirip rambut berwarna hitam, dianggap tepat untuk mengobati kebotakan.
Tumbuhan memang ditempat di bumi ini untuk kepentingan manusia dan mempunyai petunjuk yang jelas mengenai kegunaan khusu yang diberikan oleh Yang Maha Kuasa.
Dengan pesatnya perkembangan ilmu Farmakognisi modern, yang memper-hatikan masalah pengetahuan perdagangan jamur-jamur kasar dan sumber-sumbernya, farmakologi yaitu studi mengenai pengaruh kegiatan obat-obatan. Nilai pengobatan bahan obat disebabkan karena adanya zat-zat khusus di dalamnya yang mempunyai pengaruh fisiologi tertentu terhadap tubuh manusia. Pada umumnya zat itu berupa alkaloida , yang beberapa di antaranya merupakan racun yang sangat kuat bila diberikan dengan cara yang bijaksana, sedangkan yang lain dapat menimbulkan “kebiasaan” (habit) yang berbahaya, namun dalam waktu tertentu obat-obat yang paling berbahaya dan paling beracun pun dapat sangat berharga untuk kesehatan dan kesejahteraan manusia jika diberikan secara bijaksana.
Di seluruh dunia dari beberapa ribu jenis tumbuhan telah digunakan untuk tujuan pengobatan. Walaupun banyak diantaranya hanya dipergunakan oleh penduduk sekitar. Di antara tumbuh-tumbuhan itu ada yang dibudidayakan secara luas dan dikomersilkan, banyak pula yang dikumpulkan dari keadaan liar.
Menurut Kartasapoetra (1992:13-73) organ atau bagian tumbuhan yang digunakan untuk bahan obat-obatan yang paling signifikan, diklasifikasikan menjadi :
1 Diperoleh dari buah dan biji
- Tanaman Kedawung ( Parkia roxburghii) adalah tanaman yang banyak tumbuh di Indonesia. Yang terpenting sebagai bahan obat adalah bijinya, yang baunya hampir mirip bau petai, rasanya agak pahit.
- Minyak “Chaulmoogra”, dari suatu pohon yang hidup di Asia Tenggara, mengandung zat-zat yang efektif untuk pengobatan penyakit Lepra.
- Klosintius, dari tumbuhan memanjat yang tersebar luas. Sekarang dibudidayakan di daerah sekitar Laut Tengah, berguna sebagai obat pencuci perut yang kuat.
- Bidar Upas, diperoleh dari pohon yang teragih dari India sampai Australia. Tumbuhan ini dipergunakan sebagai stimulant dalam takaran kecil karena mengandung strikhin. Strikhin sendiri merupakan zat yang diperoleh dari tumbuhan.
- Candu (Paper Somniferum) yang ditanam besar-besar, dipergunakan untuk mengurangi rasa sakit, tetapi di Timur Tengah dipergunakan sebagai narkotik (obat bius).
- Psillium, dari jenis pisang terutama dipergunakan sebagai obat pencuci perut; strofantus, dari dua tumbuhan liana dari Afrika, dipergunakan sebagai pemacu jantung.
2. Diperoleh dari bunga
- Tanaman ketumbar (Coriandrum sativum) merupakan tanaman obat dan bau bijinya harum, dipergunakan untuk obat pencernaan dan bumbu masak.
- Tanaman HOP, dibudidayakan secara luas dan ekstensif di daerah beriklim sedang yang dipergunakan sebagai obat penenang, obat kuat dan pembuatan bir.
3. Diperoleh dari vegetatif
- Tanaman laos (Alpinia aficinarum), tanaman ini berguna sekali untuk pengobatan antifungsi atau panu dan dipergunakan untuk bumbu masak.
- Kokain, dari daun semak Koka (Erythroxylon SP) dari Amerika Selatan, terutama dipergunakan untuk obat bius lokal.
- Kecubung, dari tanaman Daatura stranonium, semak kecil yang teragih luas dipergunakan untuk narkotika dan pengobatan asma.
4. Diperoleh dari bagian batang
- Sambiloto merupakan ranting berdaun yang berkhasiat obat, tidak berbau dan antipretikum. Pada dahan-dahannya (ranting berdaun) yang telah dikeringkan (di udara) memiliki kadar andrografolida yang tidak kurang dari 1%.
- Guayakol, yang dipergunakan sebagai obat malaria. Kelika, kaskara diperoleh dari pohon “Boctron” yang berasal dari bagian barat Amerika yang dipergunakan untuk obat kuat dan pencuci perut; Kinine, obat anti malaria yang sangat mujarab yang sekarang dibudidayakan di Asia Selatan.
5. Diperoleh dari bagian akar dan bagian dalam tanah lainnya.
- Temuireng (Curcuma phaeocaulis) yang sangat penting sebagai bahan bakal obat adalah akar tinggalnya yang bila dikeringkan kadar minyak atsirinya tidak kurang dari 0,4% v/b. Dari akar lainnya diperoleh sederetan bahan obat termasuk Akonitum (Aconitum napellus) dipergunakan untuk mengurangi rasa sakit.
- Colchium autumnalle yang zat aktifnya adalah Kolkisin yang dipergunakan untuk pengobatan reumatik dan linu yang juga berperan penting dalam tumbuhan dimana kemampuannya untuk mengadakan koromosom.
- Ginseng, yang dianggap sebagai obat segala penyakit; Valerian, dipergunakan untuk mengurangi sakit syaraf.
6. Dipergunakan dari berbagai bagian tumbuhan
- Dari berbagai bagian tumbuhan khususnya pohon Kamfer diperoleh Kamfer dan Safrol yang dipergunakan dalam industri dan pengobatan untuk berbagai macam tujuan.
- Pteridopyta, spora yang kecil dari paku kawat (Lycopodium sp) dipergunakan untuk berbagai keperluan, pembalut dan pil untuk membentu pengobatan dalam peperangan.
- Aspidium, diperoleh dari jenis-jenis paku tertentu di daerah ikllim sedang di belahan bumi utara, dipergunakan untuk mengeluarkan cacing pita dalam tubuh.
2.2 Tumbuhan Obat di Indonesia
Heyne (1950) dalam Zuhud Ervizal (1991) telah mengidentifikasi sebanyak 1040 species tumbuhan obat Indonesi, sebagian besar berasal dari tumbuhan berbiji. Tumbuhan tersebut berasal dari famili dan species berbeda (lihat tabel 1)
TABEL 1
Kategori Tumbuhan Obat di Indonesia di Tinjau
dari Jumlah Famili dan Spesiesnya
No.
Kategori
Jumlah Famili
Jumlah Spesies
1.
Fungi
a. Phycomycetes
1
3
b.Basidiomycetes
1
5
c. Agaricales
3
4
2.
Fungi Imperfecti
a. Lichenes
1
3
3.
Cormophyta
a. Pterydophyta
8
27
4.
Anthophyta
a. Gymnospermae
3
4
b. Angiospermae
1. Monocotyledoneae
20
138
2. Ducotyledoneae
117
858
Jumlah
154
1040
Sumber : Ervizal, 1991 : 14
Di Indonesia terdapat sekitar 30.000 jenis tumbuhan, jauh melebihi di daerah-daerah tropik lainnya di dunia. Dari jumlah tersebut tidak kurang dari 1000 jenis tumbuhan yang dapat digunakan sebagai bahan baku obat (Soepardi, 1971dalam Zuhud Ervizal, 1991). Lebih jauh lagi, bila ditinjau index tumbuh-tumbuhan obat di Indonesia yang disusun dan diterbitkan oleh PT Eisei Indonesia (1986), tertulis sejumlah 7.500 jenis tumbuhan obat terdapat di negeri ini disamping masih banyak lagi tumbuh-tumbuhan obat yang belum dikenal, sehingga diperlukan suatu penelitian khusus oleh para pakar dan ilmuwan agar jenis-jenis tersebut dapat dimanfaatkan oleh manusia.
2.3 Pemakaian Tumbuhan Obat di Luar Pulau Jawa
Pengamatan dan penelitian penggunaan tumbuhan sebagai bahan obat di luar Pulau Jawa sebenarnya sudah sejak lama dilakukan. Menurut Agoes dkk (1975) dalam Ervizal 1991, pengamatan terhadap obat-obatan asli suku-suku di Sumatra Selatan pernah dilakukan oleh Rodley (1906), De Jong (1907) dan Heyne (1927) dalam Ervizal 1991. Dengan maksud memperluas cakupan penelitian. Agoes dkk dalam Ervizal 1991 juga mencoba menginventarisasi bahan obat-obatan asli suku Kubu, Brahman dkk (1984) dalam Ervizal 1991 untuk suku Batak dan Arbain dkk (1989) dalam Ervizal 1991 untuk suku-suku di Sumatera Barat.
Dari hasil penelitian para peneliti di atas terbukti terdapat keanekaragaman dalam pemanfaatan tumbuhan-tumbuhan. Misalnya masyarakat suku Sakai di Palembang memanfaatkan getah Raocheria camptoceras untuk meracuni ujung panahnya, Widjaya (1977) dalam Ervizal 1991, mengungkapkan beberapa tumbuhan obat tradisional suku Toraja di Sulawesi Selatan tercatat 22 jenis tumbuhan yang memiliki peran penting dalam berbagai bentuk pengobatan setempat. Soedjito (1988) dalam Ervizal 1991, yang mengetengahkan kearifan suku Dayak Kenyah di Long Sei Barang dan Long Segar di Kalimantan Selatan dalam mengolah sumber daya alam sekitarnya setidak-tidaknya ada 15 jenis tumbuhan obat. Menurut Wiridinata (1988) dalam Zuhud Ervizal (1991) menyebutkan bahwa di Flores tidak kurang dari 80 jenis tumbuhan digunakan sebagai obat.
Walaupun usaha pemakaian tumbuhan obat telah lama dilakukan tetapi karena cara pengumpulan datanya masih dilakukan secara sambil lalu dan tidak dilakukan secara sistematis dan lintas sektoral, maka potensi sumber daya tumbuhan obat tadi belum terungkap secara wajar (Rifai dalam Ervizal, 1991 : 121 – 123).
2.4 Jamu Tradisional
Jamu tradisional adalah jamu yang cara pembuatannya secara sederhana yaitu dengan ditumbuk, diperah dan direbus kemudian siap disajikan dan ada pula secara modern dengan memakai mesin yang kemudian dibungkus dan dijual. Cara penjualannya pun beraneka macam. Yang cara pembuatan sederhana tadi penjualannya juga sederhana yaitu dengan keliling kampung, pedusunan ataupun bahkan bisa juga merambah ke perkotaan. Sedangkan yang modern cara penjualannya pun dengan dijual di toko-toko atau warung-warung bahkan ada juga yang dijual di Swalayan.
Bahan yang dibuat untuk jamu tradisional tersebut adalah berbagai tanaman baik dalam bentuk herba sampai dalam bentuk tumbuhan tingkat tinggi. Yang cara pengambilannya secara langsung atau lewat tengkulak. Ada yang dalam bentuk sudah kering, ada juga yang masih dalam bentuk basah. Dalam bentuk basah biasanya diambil sendiri secara langsung dan untuk pembuatan jamu gendong atau jamu tradisional yang sifatnya dapat cepat digunakan. Sedangkan bahan yang dalam bentuk keringan untuk pembuatan jamu yang dikemas secara modern dan mampu bertahan lama.
BAB III
METODE PENELITIAN
Penelitian merupakan pekerjaan ilmiah yang bertujuan untuk mengungkap rahasia atau pun menjelaskan gejala-gejala sebuah objek. Yang dapat menjadi objek penelitian dapat berupa manusia atau yang dipengaruhi oleh manusia. Objek manusia atau yang dipengaruhi oleh manusia itu menurut Nawawi (1991:1) disebut penelitian ilmu sosial atau penelitian sosial.
Penelitian juga merupakan pekerjaan yang sistematik. Artinya, penelitian adalah sebuah pekerjaan yang dilakukan harus berdasarkan urutan berpikir. Dari menentukan masalah yang akan diteliti, menentukan alasan-alasan penelitian dan teori yang digunakan, sampai melakukan penelitian dengan menggunakan metode dan teknik-teknik yang harus sesuai. Urutan tersebut nantinya akan menentukan baik atau tidaknya sebuah hasil penelitian.
Setiap penelitian harus mengikuti aturan yang baku agar penelitian itu nantinya dapat menjadi sebuah pengetahuan yang teruji kebenarannya dan dapat diulang oleh orang lain dengan mengikuti prosedur yang ada. Dengan kata lain, penelitian bukanlah sebuah kegiatan yang bersifat pribadi, tetapi kagiatan yang bersifat publik dan menyangkut kepentingan dunia ilmu pengetahuan secara luas. Hasil penelitian itu nantinya perlu disampaikan kepada orang lain yang berminat.
3.1 Kerangka Berpikir dan Hipotesis
3.1.1 Kerangka Berpikir
Dalam pelajaran Biologi di Sekolah Menengah Atas, mengingat dan menghapal istilah Latin merupakan hal yang sangat penting. Hal ini disebabkan karena istilah Latin selalu dipergunakan dalam menyatakan sebuah spesies, baik spesies tumbuhan maupun hewan. Proses mengingat istilah inilah yang selalu menjadi kesulitan terbesar siswa.
Untuk dapat mengingat istilah Latin itu dengan baik, sebaiknya seseorang harus melakukan pengenalan terhadap objeknya bukan hanya sekedar mengenal namanya saja. Semakin banyak dilakukan pengenalan dengan objeknya secara langsung kemungkinan besar akan semakin kuat pula ingatannya terhadap bahasa latinnya. Namun demikian, harus pula disertai dengan latihan yang rutin baik dalam bentuk membaca, praktik, dan cara penulisannya.
Bertolak dari uraian di atas, kerangka berpikir penelitan ini adalah :
Siswa Kelas III SMA Negeri 1 Wanaraya yang mengenal secara langsung objek ( tumbuhan yang berkhasiat obat) akan memiliki kemampuan mengingat lebih baik dari pada yang tidak diperkenalkan secara langsung.
3.1.2 Hipotesis
Berdasarkan teori dan kerangka berpikir yang telah dikemukakan di atas, rumusan hipotesis penelitian ini adalah : Kemampuan siswa kelas III SMA Negeri 1 Wanaraya dalam mengingat istilah latin (ilmiah) tumbuhan akan meningkat jika melalui perkenalan secara langsung dengan jenis tumbuhannya.
3.2 Metode dan Teknik Penelitian
3.2.1 Metode Penelitian
Untuk menerapkan suatu teori terhadap suatu permasalahan memerlukan metode khusus yang dianggap relevan dan membantu dalam memecahkan permasa-lahannya sehingga dapat memahami objek atau sasaran yang dikehendaki. Oleh sebab itu, metode yang tepat dipergunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif, Sedangkan pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif. Metode deskriptif adalah suatu metode dalam meneliti status sekelompok manusia, suatu objek, suatu set kondisi, suatu sistem pemikiran, dan suatu kelas peristiwa pada masa sekarang dengan mengungkapkan keadaan objek apa adanya.
3.2.2 Teknik Penelitian
Teknik penelitian merupakan salah satu unsur yang penting dalam penelitian. Teknik penelitian dapat pula dikatakan sebagai cara atau langkah-langkah yang ditempuh peneliti dalam menentukan, mengumpulkan, mengolah, dan menganalisis data.
a. Populasi, Sampel, dan Teknik Penarikan Sampel
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa Kelas III IPA SMA Negeri 1 Wanaraya Tahun Pelajaran 2005/2006. Hal ini disebabkan karena kelas III IPS tidak diajarkan mata pelajaran Biologi. Populasi ini merupakan populasi terhingga karena populasi tersebut hanya terbatas pada siswa kelas III IPA SMA Negeri 1 Wanaraya saja dalam tahun pelajaran 2005/2006.
Penetapan populasi tersebut di atas didasarkan pada asumsi bahwa: (1) keberhasilan siswa kelas III IPA dalam belajar biologi akan sangat menentukan dalam kelulusan dan kesesuaian dengan jurusan. Kemampuan menulis dan mengingat istilah-istilah latin baik hewan atau tumbuhan dalam pelajaran biologi akan mencerminkan tingkat keberhasilan yang dicapai siswa. (2) Jumlah pertemuan untuk mata pelajaran biologi di kelas III IPA dapat dikatakan sangat banyak yaitu 7 jam dalam seminggu.
Adapun tempat penelitian ini dilakukan di SMA Negeri 1 Wanaraya dengan jumlah populasi sebanyak 37. Jumlah tersebut diambil dari seluruh siswa kelas III IPA tahun Pelajaran 2005/2006. Teknik sampling pada penelitian ini adalah dengan mengam-bil seluruhnya dari jumlah populasi yang ada yaitu 37 orang siswa. Dari 37 jumlah populasi itu terdiri dari L = 17 orang dan Perempuan = 20 orang.
Faktor yang diselidiki dalam penelitian ini adalah tes hasil kemampuan mengingat istilah latin (ilmiah) jenis-jenis tumbuhan berkhasiat obat tradisional khususnya jamu gendong sebelum dan sesudah dikenalkan secara langsung.
b. Teknik Pengumpulan Data
Data yang dikumpulkan dilakukan dengan memberlakukan dua variabel dengan keadaan yang berbeda yaitu variabel yang belum diperkenalkan secara langsung dengan jenis tumbuhan obat kemudian dilakukan tes. Kedua, memperkenalkan secara langsung dengan tumbuhan obat kemudian dilakukan tes.
Tes yang diberikan berupa tes esei. Tes ini diberikan untuk mengetahui kemam-puan ingatan siswa terhadap istilah Latin sebelum dan sesudah diberikan pengenalan langsung. Pelaksanaan tes ini dengan jalan : siswa disuruh menjawab pertanyaan yang diberikan secara tertulis.
Hal-hal yang perlu diperhatikan sebagai kreteria penelitian adalah kemampuan mengingat dan menulis istilah Latin tumbuhan berkhasiat obat dalam hal ini tumbuhan yang dipergunakan dalam pembuatan jamu tradisional.
Adapun cara penilaiannya dilakukan dengan menggunakan format seperti di bawah ini:
FORMAT HASIL PENILAIAN KEMAMPUAN DAYA INGAT SISWA TENTANG ISTILAH LATIN (ILMIAH) PADA MATA PELAJARAN BIOLOGI
No
Nama Siswa
Kreteria
Jumlah
a
b
c
Keterangan :
- Kreteria a) pengenalan jenis tumbuhan berkhasiat obat, b) kemampuan mengingat, dan c) ketepatan tulisan.
- Skor maksimum yang diberikan untuk setiap kreteria.
(a) skor maksimum 40
(b) Skor maksimum 30
(c) Skor maksimum 30
- Jumlah skor maksimum kreteria maksimum 100
Adapun pelaksanaan pengumpulan data itu dilakukan pada minggu pertama bulan Januari 2006. Pelaksanaannya disesuaikan dengan jam mengajar peneliti pada saat kegiatan ini dilakukan. Hal tersebut dilakukan agar kegiatan belajar mengajar mata pelajaran lain tidak terganggu, sehingga kegiatan sekolah pada hari itu dapat berjalan dengan baik.
c. Teknik Pengolahan dan Analisis Data
Teknik pengolahan data yaitu dengan membandingkan kedua variabel dengan keadaan yang berbeda yaitu variabel yang belum diperkenalkan secara langsung dengan jenis tumbuhan obat kemudian dilakukan tes dan yang diperkenalkan secara langsung dengan tumbuhan obat kemudian dilakukan tes.
Tes yang diberikan berupa tes esei. Tes ini diberikan untuk mengetahui kemam-puan ingatan siswa terhadap istilah Latin (ilmiah) sebelum dan sesudah diberikan pengenalan langsung. Pelaksanaan tes ini dengan jalan : siswa disuruh menjawab per-tanyaan yang diberikan secara tertulis.
a. Data, Cara Pengambilannya, Pengolahan, dan Analisisnya
Sumber Data
Sumber data penelitian ini adalah seluruh siswa kelas III IPA SMA Negeri 1Wanaraya.
Jenis Data
Jenis data yang didapatkan adalah data kuantitatif yang diperoleh melalui tes hasil belajar atau praktikum.
Cara Pengambilan Data
Data penelitian ini diambil dengan cara memberikan tes kepada siswa tentang jenis tumbuhan berkhasiat obat disertai dengan istilah Latinnya.
Pengolahan dan Analisis Data
Sedangkan untuk menganalisa data, hasil tes kedua permasalahan tersebut di bandingkan antara nilai tes pada masalah pertama dengan masalah kedua yang kemudian dihitung tingkat kelulusan/ketuntasan belajar siswa dengan nilai ketetapan seorang siswa dinyatakan lulus/tuntas apabila mencapai nilai minimal 60 dan maksimal 100. Selain itu keberhasilan tersebut dinyatakan dengan persen.
d. Jadwal Pelaksanaan Penelitian
Kegiatan
Bulan
Januari
Feruari
Maret
1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4
1. Persiapan
- Pemilihan Judul
X
- Telaah Pustaka
X
X
- Desain Penelitian
X
- Desain Instrumen
X
2. Pengumpulan Data
- Pelaksanaan Tes
X
- Pengolahan Data
X
- Penyimpulan
X
- Revisi
X
3. Penulisan Laporan
- Pengetikan
X
- Pengeditan
X
- Naskah Penelitian
X
BAB IV
HASIL PENELITIAN
4.1 Deskripsi Data
Data penelitian ini adalah peningkatan daya ingat terhadap istilah Latin (ilmiah). Data ini terdiri atas dua variabel dengan keadaan yang berbeda. Data tersebut dikumpulkan melalui dua macam tes. Variabel yang pertama dilakukan tes kemampuan mengingat istilah latin (ilmiah) jenis-jenis tumbuhan berkhasiat obat tradisional khususnya jamu gendong dengan hanya mem-berikan teori saja tanpa sebelumnya dikenalkan secara langsung (tanpa melalui praktek) kemudian variabel yang kedua dilakukan tes kemampuan mengingat istilah latin (ilmiah) jenis-jenis tumbuhan berkhasiat obat tradisional yang diperkenalkan secara langsung dan melalui praktik. Kedua data tersebut dikumpulkan sebagai dasar untuk menganalisa dan mengetahui sejauh mana daya ingat siswa terhadap istilah latin (ilmiah) tumbuhan obat tradisional sebelum dilakukan praktik serta apakah ada peningkatan daya ingat jika dilakukan pengenalan secara langsung (dengan melalui praktek) pada jenis tumbuhan obat tradisional tersebut.
4.1.1 Hasil Tes Kemampuan Daya Ingat Siswa Terhadap Istilah Latin (Ilmiah) Sebelum Dilakukan Praktek
Hasil tes kemampuan daya ingat siswa terhadap istilah Latin (Ilmiah) sebelum dilakukan praktik setelah diperiksa dan dinilai kemudian dikonversikan dengan nilai standar 1 – 10. Dari hasil pengkonversian itu diperoleh beberapa indikator pengolahan data sebagai berikut :
(a) Jumlah sampel (N) = 37
(b) Skor maksimal (H) = 65
(c) Skor minimal (L) = 25
Hasil tes kemampuan daya ingat siswa terhadap istilah Latin (ilmiah) sebelum dilakukan praktik dapat dilihat pada tabel dibawah ini :
TABEL2
Hasil Tes Kemampuan Daya Ingat Siswa Terhadap
Istilah Latin (Ilmiah) Sebelum Dilakukan Praktik
No.
Nama Siswa
Nilai Hasil Tes
Keterangan
Lulus/Tidak Lulus
1
Aditya Nur Ramadhani
48
Tidak Lulus
2
Ahmad Darnuji
61
Lulus
3
Alfianti
49
Tidak Lulus
4
Anang Haryanto
30
Tidak Lulus
5
Dahlia
46
Tidak Lulus
6
Dalmiah Tri Muryani
60
Lulus
7
Daryanto
35
Tidak Lulus
8
Fitri Wiyana
50
Tidak Lulus
9
Hadi Nurcahyo
62
Lulus
10
Hariyono
34
Tidak Lulus
11
Hartini
51
Tidak Lulus
12
Imam Mukhsin
45
Tidak Lulus
13
Junita Rusdianti
63
Lulus
14
Karnadi
36
Tidak Lulus
15
Khairil Januar
46
Tidak Lulus
16
Kukuh Kurniawati
40
Tidak Lulus
17
Kurnia
65
Lulus
18
Marzuki
25
Tidak Lulus
19
Rusmawardah
29
Tidak Lulus
20
Siti Amirah
32
Tidak Lulus
21
Siti Maesaroh
63
Lulus
22
Siti Umi Kulsum
25
Tidak Lulus
23
Sobirun
65
Lulus
24
Sri Isnawati
27
Tidak Lulus
25
Sri Wahyuni
63
Lulus
26
Supriadi
40
Tidak Lulus
27
Suyatno
41
Tidak Lulus
28
Toni Gunawan
64
Lulus
29
Tri Sutrisno
47
Tidak Lulus
30
Tuti Siswiyanti
39
Tidak Lulus
31
Ubet Khoiri Hudah
62
Lulus
32
Wahyu Handoyo
48
Tidak Lulus
33
Winarto
60
Lulus
34
Wiwi Idayatun Kasanah
45
Tidak Lulus
35
Yanti
42
Tidak Lulus
36
Yatmi
60
Lulus
37
Yayuk Indayani
30
Tidak Lulus
Jumlah Lulus
12 Siswa
Jumlah Tidak Lulus
25 Siswa
Persentasi Yang Lulus
32,43%
Persentasi Yang Tidak Lulus
67,57%
Jumlah Total
37 Siswa
Tabel 1 di atas menunjukkan bahwa siswa yang lulus tes kemampuan mengingat istilah latin (lmiah) jenis-jenis tumbuhan berkhasiat obat tradisional khususnya jamu gendong sebelum dikenalkan secara langsung (tanpa melalui praktek) sebanyak 12 siswa atau sebesar 32,43%, sedangkan yang tidak lulus tes kemampuan mengingat istilah latin jenis-jenis tumbuhan berkhasiat obat tradisional khususnya jamu gendong sebelum dikenalkan secara langsung (tanpa melalui praktek) sebanyak 25 siswa atau sebesar 67,57%. Batas angka kelulusan terletak pada angka 60 dalam nilai standar 1 – 10. Nilai dengan frekuensi terbanyak adalah nilai di bawah 60 yaitu sebanyak 25 siswa atau sebesar 67,57%. Sedangkan nilai dengan frekuensi terkecil adalah 7-10 yaitu 0 siswa.
4.1.2 Hasil Tes Kemampuan Daya Ingat Siswa Terhadap Istilah Latin (Ilmiah) Sesudah Dilakukan Praktik
Hasil tes kemampuan daya ingat siswa sesudahdilakukan praktik setelah diperiksa dan dinilai kemudian dikonversikan dengan nilai standar 1 – 10. Dari hasil pengkonversian itu diperoleh beberapa indikator pengolahan data sebagai berikut :
(a) Jumlah sampel (N) = 37
(b) Skor maksimal (H) = 85
(c) Skor minimal (L) = 45
Hasil tes kemampuan daya ingat siswa terhadap istilah Latin (Ilmiah) sesudah dilakukan praktik dapat dilihat pada tabel di bawah ini :
TABEL 3
Hasil Tes Kemampuan Daya Ingat Siswa Terhadap
Istilah Latin (Ilmiah) Sesudah Dilakukan Praktik
No.
Nama Siswa
Nilai Hasil Tes
Keterangan
Lulus/Tidak Lulus
1
Aditya Nur Ramadhani
65
Lulus
2
Ahmad Darnuji
71
Lulus
3
Alfianti
60
Lulus
4
Anang Haryanto
49
Tidak Lulus
5
Dahlia
60
Lulus
6
Dalmiah Tri Muryani
75
Lulus
7
Daryanto
55
Tidak Lulus
8
Fitri Wiyana
63
Lulus
9
Hadi Nurcahyo
78
Lulus
10
Hariyono
45
Tidak Lulus
11
Hartini
61
Lulus
12
Imam Mukhsin
59
Tidak Lulus
13
Junita Rusdianti
80
Lulus
14
Karnadi
50
Tidak Lulus
15
Khairil Januar
66
Lulus
16
Kukuh Kurniawati
62
Lulus
17
Kurnia
85
Lulus
18
Marzuki
45
Tidak Lulus
19
Rusmawardah
63
Lulus
20
Siti Amirah
54
Tidak Lulus
21
Siti Maesaroh
76
Lulus
22
Siti Umi Kulsum
47
Tidak Lulus
23
Sobirun
80
Lulus
24
Sri Isnawati
48
Tidak Lulus
25
Sri Wahyuni
70
Lulus
26
Supriadi
55
Tidak Lulus
27
Suyatno
69
Lulus
28
Toni Gunawan
74
Lulus
29
Tri Sutrisno
67
Lulus
30
Tuti Siswiyanti
59
Tidak Lulus
31
Ubet Khoiri Hudah
66
Lulus
32
Wahyu Handoyo
60
Lulus
33
Winarto
72
Lulus
34
Wiwi Idayatun Kasanah
64
Lulus
35
Yanti
58
Tidak Lulus
36
Yatmi
68
Lulus
37
Yayuk Indayani
54
Tidak Lulus
Jumlah Lulus
24 Siswa
Jumlah Tidak Lulus
13 Siswa
Persentasi Yang Lulus
64,86%
Persentasi Yang Tidak Lulus
35,14%
Jumlah Total
37 Siswa
Tabel 2 di atas menunjukkan bahwa siswa yang lulus tes kemampuan mengingat istilah latin (ilmiah) jenis-jenis tumbuhan berkhasiat obat tradisional khususnya jamu gendong sesudah dikenalkan secara langsung (melalui praktek) sebanyak 24 siswa atau sebesar 64,86%, sedangkan yang tidak lulus tes kemampuan mengingat istilah latin (ilmiah) jenis-jenis tumbuhan berkhasiat obat tradisional khususnya jamu gendong sesudah dikenalkan secara langsung (melalui praktek) sebanyak 13 siswa atau sebesar 35,14%. Batas angka kelulusan terletak pada angka 60 dalam nilai standar 1 – 10. Nilai dengan frekuensi terbanyak adalah nilai di di atas 60-85 yaitu sebanyak 24 siswa atau sebesar 64,86%. Sedangkan nilai dengan frekuensi terkecil adalah 86 -100 yaitu 0 siswa.
4.1.3 Perbandingan Hasil Tes Kemampuan Daya Ingat Siswa Terhadap Istilah Latin (Ilmiah) Sebelum Dilakukan Praktik dengan Hasil Tes Kemampuan Daya Ingat Siswa Terhadap Istilah Latin (Ilmiah) Sesudah Dilakukan Praktik
Hasil tes kemampuan daya ingat siswa terhadap istilah Latin (Ilmiah) sebelum dilakukan praktik seperti yang telah dipaparkan pada bagian 4.1.1 jika dibandingkan dengan hasil tes kemampuan daya ingat siswa terhadap istilah Latin (Ilmiah) sesudah dilakukan praktik seperti yang telah dipaparkan pada bagian 4.1.2 maka akan diperoleh nilai-nilai perbandingan sebagaimana tertera pada tabel 3 di bawah ini.
TABEL 4
PERBANDINGAN HASIL TES KEMAMPUAN DAYA INGAT SISWA TERHADAP ISTILAH LATIN (ILMIAH) SEBELUM DILAKUKAN PRAKTIK DENGAN HASIL TES KEMAMPUAN DAYA INGAT SISWATERHADAP ISTILAH LATIN (ILMIAH) SESUDAH DILAKUKAN PRAKTIK
Nilai
Kemampuan Sebelum Dilakukan Praktik
Kemampuan Sesudah Dilakukan Praktik
F
%
F
%
100
0
0
0
0
95
0
0
0
0
90
0
0
0
0
85
0
0
1
2,7
84
0
0
0
0
83
0
0
0
0
82
0
0
0
0
81
0
0
0
0
80
0
0
2
5,4
79
0
0
0
0
78
0
0
1
2,7
77
0
0
0
0
76
0
0
1
2,7
75
0
0
1
2,7
74
0
0
1
2,7
73
0
0
0
0
72
0
0
1
2,7
71
0
0
1
2,7
70
0
0
1
2,7
69
0
0
1
2,7
68
0
0
1
2,7
67
0
0
1
2,7
66
0
0
2
5,4
65
2
5,4
1
2,7
64
1
2,7
1
2,7
63
3
8,1
2
5,4
62
2
5,4
1
2,7
61
1
2,7
1
2,7
60
3
8,1
3
8,1
59
0
0
2
5,4
58
0
0
1
2,7
57
0
0
0
0
56
0
0
0
0
55
0
0
2
5,4
54
0
0
2
5,4
53
0
0
0
0
52
0
0
0
0
51
1
2,7
0
0
50
1
2,7
1
2,7
49
1
2,7
1
2,7
48
2
5,4
1
2,7
47
1
2,7
1
2,7
46
2
5,4
0
0
45
2
5,4
2
5,4
44
0
0
0
0
43
0
0
0
0
42
1
2,7
0
0
41
1
2,7
0
0
40
2
5,4
0
0
39
1
2,7
0
0
38
0
0
0
0
37
0
0
0
0
36
1
2,7
0
0
35
1
2,7
0
0
34
1
2,7
0
0
33
0
0
0
0
32
1
2,7
0
0
31
0
0
0
0
30
2
5,4
0
0
29
1
2,7
0
0
28
0
0
0
0
27
1
2,7
0
0
26
0
0
0
0
25
2
5,4
0
0
0
0
0
0
0
Lulus
12
32,43
24
64,86
Tidak lulus
25
67,57
13
35,14
Jumlah
37
100
37
100
Berdasarkan tabel di atas, siswa yang mendapat nilai tertinggi pada tes kemampuan mengingat istilah latin (ilmiah) jenis-jenis tumbuhan berkhasiat obat tradisional khususnya jamu gendong sebelum dikenalkan secara langsung (tidak melalui praktek) sebanyak 2 siswa atau sebesar 5,4%, siswa yang mendapat nilai terendah juga 2 orang atau sebesar 5,4%. Nilai tertinggi tes kemapuan mengingat istilah latin (ilmiah) jenis-jenis tumbuhan berkhasiat obat tradisional khususnya jamu gendong sebelum dikenalkan secara langsung (tidak melalui praktek) terdapat pada angka 65 sedangkan nilai terendahnya adalah pada angka 0 (sebab tidak ada yang mendapatkan nilai 0 tersebut).
Hasil tes kemampuan mengingat istilah latin (ilmiah) jenis-jenis tumbuhan berkhasiat obat tradisional khususnya jamu gendong sesudah dikenalkan secara langsung (melalui praktek) menunjukkan bahwa siswa yang mendapat nilai tertinggi sebanyak 1 orang atau sebesar 2,7%, sedangkan siswa yang mendapat nilai terendah sebanyak 2 orang atau sebesar 5,4%. Nilai tertinggi tes kemampuan mengingat istilah latin (ilmiah) jenis-jenis tumbuhan berkhasiat obat tradisional khususnya jamu gendong sesudah dikenalkan secara langsung (melalui praktek) terdapat pada angka 85 sedangkan nilai terendahnya adalah terdapat pada angka 0. (sebab tidak ada yang mendapatkan nilai 0 tersebut)
4.2 Analisis dan Interprestasi Data
Sehubungan dengan data yang terkumpul, penetapan persyaratan untuk menentukan ketercapaian tujuan penelitian sangatlah penting. Karena itu, di bawah ini penulis tetapkan kreteria-kreteria sebagai ukuran untuk memberikan pernyataan dan penafsiran data sehingga sampai kepada proses penyimpulan. Kreteria-kreteria tersebut adalah :
(1) Siswa secara individual dinyatakan mampu mengingat istilah latin (ilmiah) jenis-jenis tumbuhan berkhasiat obat tradisional khususnya jamu gendong sebelum dikenalkan secara langsung (tidak melalui praktek) apabila nilai tes kemampuannya tersebut mencapai angka 60 atau lebih dalam kategori nilai standar 1 – 10.
(2) Siswa secara individual dinyatakan mampu mengingat istilah latin (ilmiah) jenis-jenis tumbuhan berkhasiat obat tradisional khususnya jamu gendong sesudah dikenalkan secara langsung (melalui praktek) apabila nilai tes kemampuannya tersebut mencapai angka 60 atau lebih dalam kategori nilai standar 1 – 10.
(3) Siswa secara klasikal dinyatakan mampu mengingat istilah latin (ilmiah) jenis-jenis tumbuhan berkhasiat obat tradisional khususnya jamu gendong sebelum dikenalkan secara langsung (tidak melalui praktek) apabila persentase kelulusan siswa mencapai angka 60% atau lebih.
(4) Siswa secara klasikal dinyatakan mampu mengingat istilah latin (ilmiah) jenis-jenis tumbuhan berkhasiat obat tradisional khususnya jamu gendong sesudah dikenalkan secara langsung (melalui praktek) apabila persentase kelulusan siswa mencapai angka 60% atau lebih.
BAB V
PENUTUP
5.1 Simpulan
Berdasarkan hasil pengolahan data yang telah dianalisis dan diinterprestasikan, dapat dikemukakan beberapa kesimpulan sebagai berikut :
(1) Hasil perbandingan persentasi kelulusan tes kemampuan mengingat istilah latin (ilmiah) jenis tumbuhan berkhasiat obat tradisional khususnya jamu gendong menunjukkan bahwa: tingkat kelulusan siswa sebelum dikenalkan secara langsung (tidak melalui praktik) ternyata lebih rendah dibandingkan tingkat kelulusan siswa yang telah diperkenalkan secara langsung (melalui praktik). Perbandingannya yaitu sebelum praktik, kelulusan mencapai 32,43% atau 12 siswa saja yang lulus dari 37 sampel. Sedangkan setelah praktik, tingkat kelulusan siswanya mencapai 64,86% atau 24 siswa yang dikategorikan lulus. Perbandingan persentasi ini menunjukkan bahwa adanya peningkatan yang signifikan dengan perbedaan metode yang dipergunakan.
(2) Ternyata pembelajaran biologi dengan metode praktik akan lebih berhasil dalam pencapaian ketuntasan belajar bagi siswa khususnya di SMA Negeri 1 Wanaraya. Variasi dalam metode pembelajaran juga dapat meningkatkan motovasi dan minat belajar siswa. Pembelajaran biologi dengan praktik akan dapat menciptakan suasana belajar yang menyenangkan. Jika suasana belajar terasa menyenangkan, dengan sendirinya minat belajar siswa akan muncul. Hal ini akan sangat membantu dalam pencapaian ketuntasan belajar siswa.
5.2 Saran
Sebagai penutup laporan penelitian ini, penulis kemukakan beberapa saran :
(1) Untuk Lembaga
Hendaknya lembaga (sekolah) melengkapi berbagai fasilitas yang mendukung kegiatan belajar biologi, khususnya pengajaran tentang pengenalan dan hafalan istilah-istilah latin (ilmiah). Fasilitas tersebut seperti : Awetan basah ataupun kering, majalah, dan buku-buku bacaan tentang biologi terutama sekali buku tentang kunci determinasi tumbuh-tumbuhan ataupun hewan.. Fasilitas-fasilitas tersebut dapat ditempatkan di laboratorium dan perpustakaan.
(2) Untuk Guru
Hendaknya guru selalu memberikan kesempatan anak untuk bereksplorasi menemukan cara sendiri untuk memahami dan menghafal istilah-istilah latin (ilmiah) baik itu pada tumbuh-tumbuhan ataupun hewan. Tak lupa pula guru mengarahkan siswanya selalu senang ke perpustakaan, laboratorium biologi agar siswa memiliki tingkat ketrampilan praktek dan menghafal lebih bagus.
(3) Untuk Siswa
Para siswa SMA Negeri 1 Wanaraya hendaknya terus berusaha meningkatkan kemampuan belajar biologi khususnya teknik menghafal istilah-istilah latin (ilmiah) tumbuh-tumbuhan ataupun hewan. Kemampuan ini hanya dapat diperoleh dan dikuasai dengan jalan banyak praktik dan latihan yang dilakukan secara kontinu.
(3) Untuk Peneliti Lanjut
Penelitian ini sangat bagus apabila ditindak lanjuti karena sebenarnya masih banyak potensi yang perlu di kembangkan lagi. Dan dalam penelitian ini pun masih banyak sekali kekurangan-kekurangannya.
DAFTAR PUSTAKA
Abd. Modjo Indo, 1989, Kapulaga Budidaya, Pengolahan dan Pemasaran, PN. Penebar Swadaya, Jakarta.
Afriatini J.J., 1983, Bertanam Kencur, PT. Penebar Swadaya Anggota IKAPI, Jakarta.
Ervizal A.M. Zuhud, 1991, Pelestarian Pemanfaatan Tumbuhan Obat Dari Hutan Tropis Indonesia, IPB Bogor dan The Indonesian Wildlife Fund, Bogor.
Fery B. Paiman dan Murhananto, 1991, Budidaya Tanaman Jahe Pada Tanah Tegalan, PN. Penebar Swadaya, Jakarta.
Tjitrosoepomo Gembong, 1985, Morfologi Tumbuhan, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.
Tjitrosoepomo Gembong, 1994, Taxonomi Tumbuhan Obat-obatan, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.
G. Kartasapoetra, 1992, Budidaya Tanaman Berkhasiat Obat Meningkatkan Apotik Hidup dan Pendapata Para Keluarga Petani dan PKK, Rineka Cipta, Jakarta.
Hembing, 1994, Tanaman Berkhasiat Obat di Indonesia Jilid I, Pustaka Kartini, Jakarta.
Hembing, 1994, Tanaman Berkhasiat Obat di Indonesia Jilid II, Pustaka Kartini, Jakarta.
MB. Rahimsyah, 1994, Resep Lengkap Obat Kuno (Tradisional) Yang Mujarab, Media Harsa Putra, Surabaya.
Nugroho H.S., 1983, Cara Membuat Obat Tradisional (Jamu), PN. Karya Anda, Surabaya.
Rukmana Rahmat, 1994, Kunyit, PN. Kanisius, Yogyakarta.
Rukmana Rahmat, 1994, Kencur, PN. Kanisius, Yogyakarta.
Rismunandar, 1990, Kayu Manis, PN. Penebar Swadaya, Jakarta.
Seno Sastroamidjojo, 1988, Obat Asli Indonesia, PT. Dian Rakyat, Jakarta.
Thomas A.N.S., 1989, Tanaman Obat Tradisional I, PN. Kanisius, Yogyakarta.
Lampiran: 1
Materi tes peningkatan kemampuan daya ingat siswa terhadap istilah Latin (Ilmiah) jenis-jenis tumbuhan yang berkhasiat obat tradisional khususnya jamu gendong sebelum dan sesudah dikenalkan secara langsung (tidak/melalui praktek) meliputi : nama-nama tumbuhan, nama daerah dan familinya. Materi tes terlampir pada tabel di bawah ini.
No.
Nama Tumbuhan
Nama Daerah
Famili
1.
Andrographis paniculata
Sambiloto
Acanthaceae
2.
Citrus aurantifolia
Jeruk Nipis
Ruraceae
3.
Curcuma domestica
Janar
Zingiberaceae
4.
Curcuma xanthorrhiza
Temulawak
Zingiberaceae
5.
Curcuma phaeocaulis
Temu Hitam
Zingiberaceae
6.
Kaemferia galanga
Kancur
Zingiberaceae
7.
Zingiber afficinale
Tipakan Habang
Zingiberaceae
8.
Zingiber afficinale
Tipakan Putih
Zingiberaceae
9.
Zingiber aromaticum
Lempuyang Pahit
Zingiberaceae
10.
Zingiber americanus
Lempuyang Emprit
Zingiberaceae
11.
Languas galanga
Laos
Zingiberaceae
12.
Ellettaria cardamomum
Kapulaga
Zingiberaceae
13.
Cinnamomum burmanii
Kayu Manis
Lauraceae
14.
Coriandrum sativum
Katumbar
Umbelliferae
15.
Foeniculum vulgare
Adas
Umbelliferae
16.
Oryza sativa
Baras
Poaceae
17.
Parkia roxburghii
Kedawung
Leguminosae
18.
Piper betle
Sirih
Piperaceae
19.
Tamarindus indica
Asam Jawa
Fabaceae
20.
Tinospora tuberculata
Penawar Sampai
Manispermaceae
21.
Euginia caryophyllus
Cangkih
Myrtaceae
22.
Coleus amboinicus L.
Jintan
Labiatae
Lampiran: 2
Materi tes peningkatan kemampuan daya ingat siswa terhadap istilah Latin (Ilmiah) jenis-jenis tumbuhan yang berkhasiat obat tradisional khususnya jamu gendong sebelum dan sesudah dikenalkan secara langsung (tidak/melalui praktek) meliputi : nama-nama tumbuhan, nama daerah dan kegunaan jamu tradisionalnya dengan menitik beratkan pada nama tumbuhan yang digunakan sebagai bahan jamu tradisional khususnya jamu gendong yang dijual kepada masyarakat yang mengkonsumsinya. Materi tes terlampir pada tabel di bawah ini.
No.
Nama Tumbuhan
Nama Daerah
Dipergunakan Untuk Jamu
1.
Andrographis paniculata
Sambiloto
Pahitan
2.
Citrus aurantifolia
Jeruk Nipis
1. Temulawak
2. Janar Sirih
(Pucuk Sirih)
3. Janar Asam
3.
Curcuma domestica
Janar
1. Janar Sirih
(Pucuk Sirih)
2. Janar Asam
4.
Curcuma xanthorrhiza
Temulawak
Temulawak
5.
Curcuma phaeocaulis
Temu Hitam
1. Temulawak
2. Janar Sirih
(Pucuk Sirih)
3. Janar Asam
6.
Kaemferia galanga
Kancur
Beras Kencur
7.
Zingiber afficinale
Tipakan Habang
Gula Jahe
8.
Zingiber afficinale
Tipakan Putih
Gula Jahe
9.
Zingiber aromaticum
Lempuyang Pahit
Pahitan
10.
Zingiber americanus
Lempuyang Emprit
Pahitan
11.
Languas galanga
Laos
1. Temulawak
2. Janar Sirih
(Pucuk Sirih)
3. Janar Asam
12.
Ellettaria cardamomum
Kapulaga
1. Beras Kencur
2. Temulawak
3. Janar Sirih
(Pucuk Sirih)
4. Janar Asam
13.
Cinnamomum burmanii
Kayu Manis
Janar Asam
14. Coriandrum sativum
Katumbar
1. Beras Kencur
2. Kunir Asam
15.
Foeniculum vulgare
Adas
1. Beras Kencur
2. Temulawak
3. Janar Sirih
(Pucuk Sirih)
4. Janar Asam
16.
Oryza sativa
Baras
Beras Kencur
17.
Parkia roxburghii
Kedawung
1. Beras Kencur
2. Temulawak
18.
Piper betle
Sirih
Janar Sirih (Pucuk Sirih)
19.
Tamarindus indica
Asam Jawa
Janar Asam
20.
Tinospora tuberculata
Penawar Sampai
Pahitan
21.
Euginia caryophyllus
Cangkih
1. Beras Kencur
2. Janar Sirih
(Pucuk Sirih)
3. Janar Asam
22.
Coleus amboinicus L.
Jintan
1. Beras Kencur
2. Temulawak
3. Janar Sirih
(Pucuk Sirih)
4. Janar Asam